Jamu Habis Bersalin Nyonya Meneer

Posted on May 26, 2010

0


Kembalikan cantikmu secara alami  dengan Jamu Habis Bersalin dari Nyonya Meneer yang sudah mentradisi layaknya budaya musik keroncong.

Kehamilan dan Melahirkan merupakan proses alami yang terjadi pada setiap wanita di belahan dunia manapun. Namun kadangkala perubahan bentuk tubuh habis bersalin menjadi kekhawatiran tersendiri bagi seorang wanita. Seringkali akan muncul pertanyaan-pertanya an dalam diri ibu baru mengenai kemungkinan baliknya bentuk tubuh sehabis bersalin.Tidak dipungkiri hal ini kerapkali menjadi salah satu pemicu   seorang ibu menjadi feeling blue (baby blues) usai melahirkan. Oleh karena itu dukungan dari orang sekitar, terutama suami, sangat diperlukan untuk mengurangi perasaan cemas yang timbul. Dan disarankan untuk setiap ibu  seusia bersalin menyempatkan diri untuk merawat tubuhnya sebagai bukti kecintaan pada tubuh diri sendiri mengingat pada masa 40 hari merupakan fase yang menentukan bagi para ibu untuk bisa mengubah dan mengembalikan penampilan seperti sebelum melahirkan sehingga tetap menarik. Salah satunya adalah menggunakan Jamu Habis Bersalin dari Nyonya Meneer.

PT. Nyonya Meneer merupakan perusahaan yang memperhatikan kebutuhan para ibu usai bersalin. Kecemasan akan tidak mungkinnya tubuh kembali cantik dan sehat seperti semula dijawab oleh hadirnya produk Jamu Habis Bersalin dari Nyonya Meneer. Khasiat dari Jamu Habis Bersalin dari Nyonya Meneer sangat bagus untuk melangsingkan tubuh, mengecilkan perut, melancarkan ASI dan mengembalikan kesehatan badan.

Jamu Habis Bersalin dari Nyonya Meneer sudah men-tradisi layaknya budaya musik keroncong yang sudah menjadi tradisi dan populer di Nusantara sejak abad ke 19. Hal ini juga dirasakan oleh penyanyi keroncong sekaligus dosen di salah satu universitas di Jakarta yakni DR. Soendari Soekotjo, MM, yang telah sekian lama mempercayakan kecantikan tubuhnya kepada Jamu Habis Melahirkan dari Nyonya Meneer. Selain itu agar tetap selalu menjaga kesehatan tubuhnya, Soendari Soekotjo selalu  mengkonsumsi jamu-jamu yang di produksi oleh PT.Nyonya Meneer seperti rangkaian produki Jamu Untuk Wanita lainnya..

Kesetiaan Soendari Soekotjo pada jamu-jamu dari Nyonya Meneer yang bahan-bahan jamu itu sendiri diambil dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Indonesia baik itu dari akar, daun, buah, bunga, maupun kulit kayu, serta kecintaannya pada musik keroncong menjadikan salah satu alasan PT. Nyonya Meneer memilih Soendari Soekotjo sebagai ambassador untuk produk Jamu Habis Bersalin.

PT.Nyonya Meneer juga mengajak para wanita Indonesia khususnya para ibu muda yang untuk peduli dengan kesehatan dan kecantikan tubuh usai melahirkan dengan  Jamu Habis Bersalin-Nyonya Meneer yang sudah mentradisi.

Jamu Habis Bersalin ini bentuknya sudah berupa paket yang harus diminum dan digunakan selama 40 hari sesuai petunjuk, karena dalam 1 paket Jamu Habis Bersalin (JHB) itu terdapat jamu untuk perawatan dalam dan luar.

Perawatan tradisional selama 40 hari dengan Jamu Habis Bersalin (JHB) dari Nyonya Meneer menjadikan tubuh terasa segar, singset dan cantik seperti semula.

Sejarah Jamu Nyonya Meneer (PT.Nyonya Meneer)

Keterbatasan bisa menjadi motivasi, keprihatinan dapat memacu kreativitas. Pengalaman hidup Nyonya Meneer merupakan contoh paling tepat. Keterbatasan dan keprihatinan masa pendudukan Belanda di awal 1900-an tidak menjadikannya putus asa di saat sang suami jatuh sakit. Berbekal sedikit pengetahuan, Nyonya Meneer meracik aneka tumbuhan dan rempah untuk diminum suaminya. Ternyata ramuan itu mujarab, padahal berbagai pengobatan tidak mampu memulihkan kondisi sang suami tercinta.

Para kerabat dekat di Semarang segera mencium ‘dingin’nya tangan Nyonya Meneer mengolah jamu. Nyonya Meneer yang ringan tangan dan sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya dengan senang hati meracik untuk mereka yang demam, sakit kepala, masuk angin dan terserang berbagai penyakit ringan lainnya. Sebagian besar yang mencobanya puas.

Semakin banyak yang merasakan khasiat jamu racikan Nyonya Meneer, semakin banyak pula permintaan padanya untuk mengantarkan sendiri jamu yang belakangan mulai dikemasnya itu. Kesibukan Nyonya Meneer di dapur tidak memungkinkan untuk memenuhi permintaan itu. Dengan berat hati dia minta maaf, dan sebagai ganti dia mencantumkan fotonya pada kemasan jamu buatannya. Tak ada yang keberatan, tak ada pula yang menduga bahwa di kemudian hari, jamu dengan potret seorang wanita ini melegenda.

Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar. Bahkan, pada tahun 1919, Nyonya Meneer berhasil mewujudkan impiannya, mendirikan perusahaan “Jamu Jawa Asli Cap Portret Nyonya Meneer di Semarang”. Untuk mempermudah pelanggan Nyonya Meneer juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Perusahaan terus berkembang dengan bantuan anak-anaknya yang mulai besar. Seorang putrinya, Nonnie hijrah ke Jakarta pada tahun 1940. Dialah yang merintis dibukanya toko Nyonya Meneer, di Jalan Juanda, Pasar Baru. Jamu yang tadinya muncul dari keterbatasan dan keprihatinan ini pun masuk ke ibukota dan meluas ke seluruh penjuru negeri.

Motto

Jamu Nyonya Meneer, tradisi terbaik untuk kesehatan dan kecantikan

Visi

Karena Mutu, Kami unggul di setiap pesaing pasar

Misi

- Melestarikan warisan tradisi nenek moyang dalam menjaga kesehatan   dan kecantikan

- Memberikan pelayanan kesehatan dan kecantikan yang bermutu   sekaligus yang terjangkau diseluruh lapisan masyarakat

- Pelayanan kesehatan yang tercipta dari masyarakat untuk masyarakat   luas

- Turut serta membantu pemerintah dalam rangka peningkatan SDM   dengan cara pemberdayaan dan pengadaan lapangan kerja

Sejarah Keroncong
Keroncong merupakan nama dari instrumen musik sejenis ukulele dan juga sebagai nama dari jenis musik khas Indonesia yang menggunakan instrumen musik keroncong, flute, dan seorang penyanyi wanita. Akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini disebut moresco, yang diiringi oleh alat musik dawai. Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan. Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang. Alat musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo, perkusi juga kadang-kadang masih dipakai oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara, yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir oleh orang Betawi berbaur dengan musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun 1920-1960 pusat perkembangan pindah ke Solo, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat orang Jawa.

Posted in: Herbal, Medicine