Balita Merokok Merupakan Cermin Ketiadaan Perlindungan Negara pada Anak

Posted on June 3, 2010

1


Jakarta, 3 Juni 2010 – Balita merokok yang akhir-akhir ini terjadi di beberapa daerah di Indonesia patut menjadi keprihatinan kita bersama. Sebagaimana diketahui bahwa dalam lima bulan terakhir pada 2010 ini, kita dikejutkan dengan adanya anak di bawah lima tahun (balita) asal Malang, Jawa Timur bernama SAS, 4 tahun, yang sudah merokok sebagaimana layaknya orang dewasa. Kemudian belum lama ini ada juga AR, 2 tahun, asal Desa Teluk Kemang, Sungai Lilin, Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan, yang dilansir berbagai media, baik lokal maupun internasional, juga menghadapi masalah yang sama menjadi kecanduan rokok sejak dini. Bahkan dia dilaporkan
menghabiskan 40 batang rokok per hari.

Fenomena seperti ini jelas bukan gambaran ideal bagi orang tua atau keluarga terhadap sosok anak-anak yang seharusnya dilindungi agar tidak terjerumus pengaruh rokok yang dapat mengganggu hak hidup dan tumbuh kembangnya. Namun, ini terjadi di Indonesia, di negara kita sendiri, bahkan di lingkungan kita sendiri. ”Hal ini patut kita gelisahkan dimana saat ini anak usia 5 tahun sudah merokok dan dalam empat tahun terakhir, prevalensi anak-anak merokok naik 400 persen,” kata Seto Mulyadi, mantan Ketua Komnas Anak yang kini menjadi Ketua Dewan Konsultatif Komnas Anak.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) merasa prihatin melihat fenomena balita yang merokok. Ini menunjukkan bahwa ada sikap permisif pada anak-anak yang merokok dan ketidakpedulian dari keluarga dan orang dewasa di sekitar anak tersebut akan bahaya merokok. “Kami tidak habis mengerti bagaimana orang tua atau orang dewasa di sekitar anak-anak tersebut membiarkan dan bahwa mungkin mendorong anak-anak untuk melakukan hal-hal yang justru berbahaya bagi kesehatan dan masa depannya sendiri. Hal ini tentu saja tak bisa dibiarkan,” ujar Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak yang baru terpilih untuk periode 2010-2014.

Sebagaimana kita ketahui bahwa rokok mengandung 4.000 racun berbahaya yang bisa merusak tubuh. Jika zat-zat adiktif tersebut diserap oleh tubuh, apalagi jika diserap oleh anak-anak, maka akan mengganggu tumbuh kembang anak seperti perkembangan paru-paru lambat, inteligensi kurang, infeksi saluran nafas, infeksi telinga, asma dan sebagainya. Dan yang paling berbahaya mereka akan terus terjerat zat adiktif yang ada di dalam rokok, seperti halnya SAS dan AR.

Fenomena anak-anak merokok yang terjadi di beberapa daerah juga menunjukkan betapa industry rokok sangat agresif memasarkan produknya kepada semua lapisan masyarakat hingga rokok dianggap normal dan lumrah bahkan dikonsumsi anak-anak balita. Ketiadaan regulasi yang melarang iklan rokok, distribusi, maupun kawasan tanpa rokok, serta pencantuman peringatan bergambar, memungkinkan produk ini untuk sampai pada semua lapisan masyarakat baik di daerah yang memiliki infrastruktur baik maupun yang belum. Sehingga, dengan adanya produk yang didistribusikan dan ditunjang iklan-iklan yang cenderung menyesatkan dan bias, memungkinan anak-anak dan remaja tergoda untuk merokok.

Komnas Anak melihat bahwa anak anak ini merupakan korban dari ketiadaan perlindungan yang seharusnya diterima oleh mereka. Sudah sepatutnyalah negara melindungi anak-anak yang masih dalam taraf perkembangan tersebut dari pengaruh bahaya produk tembakau. Oleh karena itu regulasi yang mencerminkan perlindungan terhadap semua anak bangsa patut didukung termasuk hadirnya Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif sebagai amanat dari Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 113 terkait zat adiktif tembakau.

Untuk itu Komnas Anak mendorong agar pemerintah c. q. pihak Kementerian Kesehatan dan jajaran kementerian terkait terus mempertimbangkan untuk senantiasa melindungi anak-anak kita dari bahaya produk tembakau. Pertimbangan kesehatan ini adalah sebuah pertaruhan yang besar untuk bisa mencetak anak-anak yang cerdas, sehat dan memiliki manfaat untuk masyarakat, negara dan juga lingkungannya.

Hormat Kami,
Atas Nama Komisi Nasional Perlindungan Anak
Untuk informasi selanjutnya, silahkan hubungi:
Fadila Febrianty (021) 8416159
Jl. TB. Simatupang No. 33 Pasar Rebo, Jakarta Timur 13760
Telp. (62‐21) 8416157; 8416159; Hotline Service 87791818, Fax. (62‐21) 8416158;
E‐mail. komnaspa@cbn.net.id, info@komnaspa.or.id; Website. http://www.komnaspa.or.id

Tagged: , ,