INDONESIA OPEN TERSANDERA INDUSTRI ROKOK

Posted on June 21, 2010

0


Jakarta, 21 Juni 2010 – Di tengah komitmen Kementerian Pemuda dan Olah Raga untuk tidak menerima sponsor dari perusahaan rokok pada penyelenggaraan SEA GAMES 2011 mendatang, sejalan dengan spirit
smoke-free SEA GAMES yang bebas dari asap rokok dan sponsor perusahaan rokok di Vientiane Laos tahun lalu, ternyata turnamen bulu tangkis internasional bergengsi Indonesia Open malahan disponsori oleh industri rokok. Padahal di Negara lain tak satupun turnamen bergengsi ini disponsori oleh industri rokok apalagi menambahkankan nama industri rokok pada nama eventnya (Denmark Open, Korea Open dan China Open). Namun di Indonesia, karena industri rokok yang mensponsori maka berubah menjadi Djarum Indonesia Open Super Series 2010 (DIOSS).

Terkait dengan ini, Komnas Perlindungan Anak telah menyampaikan keprihatinan kepada Menteri Pemuda dan Olah Raga pada tanggal 17 Juni 2010, karena hal ini dimanfaatkan oleh industri rokok untuk menciptakan ketergantungan bulutangkis terhadap industri rokok dan membangun citra positif industri rokok melalui pemberian sponsor pada turnamen Indonesia Open.

Keterlibatan Industri Rokok patut diduga berperan signifikan pada inisiasi merokok pada remaja, karena 81% remaja pernah mengikuti kegiatan yang disponsori industri rokok. (Studi penelitian tentang Dampak Keterpajanan Iklan Rokok dan Kegiatan Yang Disponsori Industri Rokok Terhadap Aspek Kognitif, Sikap dan Perilaku Perokok Remaja, Komnas Anak dan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka , 2007).

Studi tersebut juga membuktikan bahwa Iklan, promosi dan kegiatan yang disponsori industri rokok terbukti merangsang aspek kognitif remaja untuk merokok, mendorong perokok remaja untuk terus merokok dan mendorong perokok remaja yang telah berhenti merokok kembali merokok. Hal ini jelas membuktikan bahwa iklan, promosi dan kegiatan yang disponsori rokok berepengaruh terhadap inisiasi merokok bagi remaja.

Komnas Perlindungan Anak sangat prihatin, atas agresifitas pemasaran yang dilakukan industri rokok sehingga menyebabkan jumlah perokok remaja mengalami lonjakan yang signifikan. Data Susenas menunjukan Prevalensi perokok remaja usia 15 – 19 tahun meningkat sebanyak 144% selama tahun
1995 hingga 2004. Survei ini juga menunjukan perokok yang mulai merokok pada usia 5 – 9 tahun meningkat lebih dari 4 kali lipat sepanjang tahun 2001 – 2004.

Rokok sebagai satu-satunya produk legal yang membunuh separuh dari konsumennya tidaklah dapat disamakan dengan produk lain. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam Konvensi Internasional Pengendalian Tembakau (FCTC) menegaskan bahwa tembakau adalah produk adiktif yang dapat menyebabkan kematian, penyakit dan kecacatan. WHO melaporkan sebanyak 5,4 juta jiwa meninggal akibat penggunaan tembakau pada tahun 2005 dan 100 juta jiwa di abad ke-20. Di Indonesia sendiri, 427.948 jiwa meninggal akibat konsumsi rokok pada tahun 2001 atau sebanyak 1172 jiwa setiap hari
(Soewarta Kosen, 2004).

Karena itu, tidaklah etis produk rokok dipromosikan dalam bentuk apapun, termasuk iklan dan sponsorship. Pasal 13 WHO Framework Convention on Tobacco Control, sebagai instrumen hukum internasional yang telah diratifikasi oleh 165 negara di seluruh dunia menegaskan pelarangan terhadap segala bentuk iklan, promosi dan sponsor rokok karena berdampak pada peningkatan konsumsi rokok, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

Sementara itu secara yuridis formal UU No 36 tahun 2009, tentang kesehatan pasal 113 ayat 2, telah jelas dinyatakan bahwa produk tembakau adalah zat adiktif yang penggunaanya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan masyarakat.

Karena itu, Komnas Perlindungan Anak mendorong dan mendukung pemerintah sepenuhnya cq. Kementerian Kesehatan yang pada saat ini sedang membahas Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif Bagi Kesehatan sebagai bentuk perlindungan kepada kelompok rentan yaitu anak dan perempuan, yang seharusnya didukung oleh semua pihak yang bertanggungjawab atas perlindungan anak, seperti yang dimandatkan oleh UU Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002.

Dan meminta kepada seluruh pihak terkait agar selanjutnya turnamen olah raga tidak lagi disponsori industri rokok, karena sesungguhnya olah raga bertujuan untuk menyehatkan masyarakat sehingga sangat ironis apabila disponsori oleh industri rokok yang produknya menyebabkan kematian.

Hormat Kami,

Atas Nama Komisi Nasional Perlindungan Anak
Arist Merdeka Sirait

Untuk informasi selanjutnya, silakan hubungi:
Fadila Febrianty: (021) 841-6159

Posted in: Uncategorized