SELAMATKAN ORANGUTAN, ASET NASIONAL INDONESIA

Posted on July 19, 2010

0


Jakarta, 15 Juli 2010 – Centre for Orangutan Protection (COP) mendesak pemerintah agar lebih bertanggung jawab dalam menyelamatkan orangutan dari ancaman kepunahan. Selama ini upaya-upaya konservasi orangutan lebih banyak dilakukan oleh LSM.

“Upaya-upaya konservasi orangutan oleh LSM sangat intensif dan berdampak langsung terhadap orangutan, seperti dokumentasi tentang penggundulan habitat orangutan, operasi penyitaan orangutan dari kepemilikan illegal, mengupayakan kesejahtraan orangutan di taman-taman satwa, hingga menginisiasi serta menjalankan pusat-pusat rehabilitasi orangutan, seluruhnya dilakukan oleh LSM. Jika ada petugas dari BKSDA yang disertakan, dalam operasi penyitaan orangutan misalnya, itu adalah inisiatif LSM, sejauh ini COP tidak melihat itikad yang serius dari pemerintah untuk melestarikan orangutan dan habitatnya,” kata Mohammad Ali Daut, Kampainer COP.

Sangat disayangkan, kontribusi LSM tersebut tidak sinergis dengan fungsi pemerintah dalam melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang no. 5 tahun 1990. Dokumentasi foto dan video COP sepanjang Januari hingga Juli 2010 telah menunjukan, bahwa penebangan hutan bernilai konservasi tinggi, untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit, masih terus berlangsung di Kalimantan.  Warga masih saja dengan leluasa memelihara, atau berburu dan mengkonsumsi daging orangutan tanpa dikenai sanksi hukum.  Belum lagi indikasi perdagangan gelap orangutan yang mestinya ditangani secara serius. “Alih-alih melakukan investigasi, memulangkan 11 orangutan yang kini nasibnya terkatung-katung di Thailand saja, pemerintah sepertinya tak berdaya,” lanjut Mohammad Ali Daut.

“Orangutan adalah kekayaan nasional kita yang tidak ternilai harganya. Sudah saatnya kita menjadikan spesies primata, yang memiliki kemiripan DNA, sebanyak 97,3 % dengan manusia itu, sebagai satwa kebanggaan Indonesia. Jangan menunggu hingga saat negara tetangga mengklaim orangutan sebagai satwa khas mereka dan pada saat itu kita telah mendapati seluruh habitat orangutan sudah berubah menjadi perkebunan sawit, sementara orangutan yang tersisa di Indonesia, hidup dalam kandang di kebun-kebun binatang,” kata Heri Susanto, asisten staff komunikasi COP.

“Pemerintah dengan otoritasnya yang dominan dalam bidang konservasi biodiversitas dan ekosistemnya, sesungguhnya dapat segera mengambil tindakan cepat dan tepat dalam menyelamatkan orangutan dan habitatnya. Yakni dengan cara mengubah status habitat orangutan yang tersisa saat ini, menjadi hutan lindung, atau taman nasional bila perlu,” saran Mohammad Ali Daut.

Informasi lebih lanjut harap menghubungi Mohammad Ali Daut.
Email            : ali@cop.or.id
Telepon            : 08121149911

Foto – foto dan video yang beresolusi tinggi berkaitan dengan siaran pers ini dapat diminta pada Eva
Email            : epa@cop.or.id
Telepon            : +6285646750202

Centre for Orangutan Protection bekerja melindungi orangutan dari kejahatan dan kekejaman. Informasi lebih detail dapat dilihat di http://www.cop.or.id

Catatatan:
1.       Populasi orangutan menurut survey PHVA (Population and Habitat Viability Assessment) tahun 2006 adalah 50.000 di Kalimantan (Pongo Pygmaeus dengan 3 sub spesiesnya: Pongo Pygmaeus Pygmaeus, Pongo Pygmaeus Wurmbi dan Pongo Pymaeus Morio) dan 7500 di Sumatra baigian utara (Pongo Pymaeus Abelli).

2.        Selain Sumatra bagian utara dan Kalimantan, Serawak dan Sabah (Malaysia Timur) juga memiliki habitat bagi dua sub spesies orangutan Kalimantan, yakni Pongo Pygmaeus Pygmaeus dan Pongo Pygmaeus Morio. Meskipun populasi orangutan di Malaysia Timur lebih kecil, kelestarian kedua spesies primata tersebut cendrung lebih terlindunngi.

Tagged: , ,