TANDAI 10 TAHUN AKSI ATASI REMATIK, PFIZER LURUSKAN MITOS DAN TINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT

Posted on July 26, 2010

0


Ratusan penderita rematik ikuti Senam Rematik dan program edukasi rematik di beberapa kota besar di Indonesia

Jakarta, 25 Juli 2010 – Dalam upaya untuk semakin meningkatkan kesadaran masyarakat akan seriusnya penyakit rematik dan pentingnya perawatan yang tepat untuk mengatasinya, PT Pfizer Indonesia (Pfizer) adakan program edukasi dan Senam Rematik bersama untuk ratusan penderita rematik di 6 kota di Indonesia. Program yang dimulai hari ini, 25 Juli 2010, di Bandung ini menandai sepuluh tahun aksi Pfizer dalam mengatasi penyakit rematik dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap penyakit tersebut.

Andriani Ganeswari, Marketing Communications Senior Manager PT Pfizer Indonesia mengatakan: “Rematik dapat menghambat produktivitas serta menurunkan kualitas hidup seseorang dan yang sangat disayangkan hingga saat ini masih banyak mitos mengenai rematik beredar di masyarakat sehingga sering kali masyarakat tidak menyikapi penyakit ini dengan tepat. Sebagai salah satu perusahaan yang peduli dan terdepan di sektor kesehatan, Pfizer merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan pengertian dan kesadaran masyarakat akan penyakit rematik dan meluruskan mitos seputar penyakit
tersebut.”

Bersamaan dengan pencanangan Dekade Tulang dan Sendi (Bone and Joint Decade) oleh WHO pada tahun 2000 yang lalu, Pfizer pun berkomitmen untuk melakukan aksi yang berkesinambungan untuk mengatasi masalah penyakit rematik. Rematik merupakan penyakit yang menyerang persendian dan struktur di sekitarnya serta dapat diderita oleh setiap orang, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan. Dalam tingkat yang parah, rematik bahkan dapat menimbulkan kecacatan tetap, ketidakmampuan, dan penurunan kualitas hidup.

Saat ini jumlah penderita rematik di dunia sekitar 1 persen, angka yang terlihat cukup kecil namun terus meningkat, khususnya pada jenis kelamin perempuan[1]. Penelitian dari Mayo Clinic yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan antara 1995 dan 2005, penderita wanita mencapai 54 dari 100 ribu orang dan pria hanya 29 dari 100 ribu orang [2].  Sementara itu di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian terakhir dari Zeng QY et al pada tahun 2008 lalu, prevalensi nyeri rematik mencapai 23,6% hingga 31,3%[3].

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia maka jumlah penderita penyakit rematik secara otomatis akan meningkat pula. Namun dengan pengetahuan masyarakat saat ini yang masih kurang mengenai rematik dikhawatirkan akibat dari penyakit, yaitu kecacatan, pun akan meningkat.

“Karena masyarakat belum paham mengenai penyakit rematik maka mereka beranggapan bahwa dengan hanya mengkonsumsi obat penyakit rematik maka rasa sakit dan nyeri dapat hilang. Maka dari itu tidak mengherankan apabila mayoritas dari penderita rematik cenderung memilih untuk mengobati dirinya
sendiri (self-medication) daripada memeriksakan diri ke dokter. Padahal dengan tindakan self-medication tersebut mereka hanya akan merasakan rasa sakit yang berkurang dalam waktu singkat saja tetapi penyakitnya masih akan tetap berjalan terus. Sebab itu sangat penting bagi masyarakat untuk berkonsultasi dengan dokter dalam mengetahui tindakan apa yang tepat dalam menangani penyakit rematiknya serta mendapatkan informasi mengenai keampuhan obat dan efek samping yang mungkin timbul dari obat yang akan mereka konsumsi. Inilah salah satu kesadaran yang ingin kami tingkatkan pada masyarakat,” ujar dr. Riardi Pramudiyo SpPD-KR Kepala Sub Unit Reumatologi RSUP DR Hasan Sadikin dalam acara 10 Tahun Beraksi Atasi Rematik.

Berdasarkan penelitian, terdapat lebih dari 100 jenis penyakit yang termasuk dalam keluarga rematik. Sampai saat ini, penyakit rematik yang sering dijumpai di masyarakat adalah osteoarthritis yang sering timbul pada kelompok lansia. Dan kelompok lansia ini sangat rentan akan efek samping dari obat yang dikonsumsinya.

Menurut American College of Rheumatology, perawatan untuk rematik dapat meliputi terapi farmakologis, terapi non-farmakologis, dan tindakan bedah. Pada tahun 2008 lalu, Pfizer mendukung ide kreatif dua pakar Rehabilitasi Medik dari RSCM FKUI, Prof.DR. dr. Angela B.M Tulaar SpRM dan dr. Siti Annisa Nuhonni SpRM yang menciptakan senam rematik yang berfungsi sebagai modal yang akan melengkapi terapi penyakit rematik.

Secara umum, gerakan-gerakan senam rematik dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan gerak, fungsi, kekuatan, dan daya tahan otot, kapasitas aerobik, keseimbangan, biomekanik sendi, dan rasa posisi sendi.

“Untuk mencapai hasil yang maksimal, senam rematik baiknya dilakukan tiga hingga lima kali dalam seminggu, namun harus dipastikan bahwa dalam melakukan senam rematik ini, penderita harus berada dalam pengawasan dokter agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas dr. Siti Annisa Nuhoni SpRM.

Dengan kombinasi pengobatan dan senam rematik yang tepat, diharapkan radang persendian dan rasa sakit akibat penyakit rematik dapat berkurang serta penderita dapat menjalani aktivitasnya sehari-hari yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Lebih dari itu, dengan pengetahuan dan
kesadaran yang mendalam mengenai penyakit rematik, diharapkan masyarakat dapat lebih cepat dalam bertindak mengatasi penyakit ini sehingga prevalensi penyakit rematik di Indonesia dapat berkurang.

Tentang Pfizer Indonesia
Pfizer Inc berdiri tahun 1849 dan didedikasikan untuk meningkatkan kesehatan yang lebih baik dan akses yang lebih luas bagi kesehatan dan layanan kesehatan manusia, serta pengobatan dan perawatan hewan. Setiap hari, lebih dari 80 ribu karyawan di lebih dari 90 negara bekerja untuk menemukan, mengembangkan, memproduksi dan menyebarkan obat-obat yang berkualitas, aman dan efektif untuk pasien.

Di Indonesia, Pfizer hadir sejak tahun 1969, dan memiliki pabrik sejak tahun 1971. Dimulai dengan hanya 11 karyawan, kini dengan bergabungnya perusahaan ini, jumlah karyawan mencapai hampir 1000 orang. Pfizer Indonesia berkantor pusat di Jakarta dengan 15 kantor cabang di seluruh Indonesia. Saat ini Pfizer menduduki posisi keempat di jajaran perusahaan farmasi secara nasional dan posisi nomor 1 di antara Perusahaan Farmasi Multinasional di Indonesia. Dengan keahlian kami sebagai perusahaan biofarmasi terkemuka di dunia, kami menjalin kerja sama dengan penyedia perawatan kesehatan, pemerintah, dan komunitas lokal untuk mendukung dan memperluas akses untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang dapat diandalkan dan terjangkau di seluruh dunia untuk menjadikan Indonesia lebih sehat.