Kampus Yang Ramah Pada Tunanetra, Masih Impian; Renungan Memasuki Tahun Ajaran Baru 2010-2011.

Posted on July 27, 2010

0


Jakarta,  28 Juli 2010 –  Mitra Netra, melalui kerja sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), International Council of Education for People with Visual Impairment (ICEVI), The Nippon Foundation (TNF) dan Universitas Indonesia (UI), menyelenggarakan seminar bertempat di Auditorium  AJB Gedung  F lantai 2  Kampus FISIP UI Depok, untuk mempromosikan idiologi pendidikan inklusi di perguruan tinggi. Hadir Mendiknas Muhammad Nuh menyampaikan  sambutan sekaligus membuka secara resmi,  pada seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 150 orang, yang terdiri dari unsure wakil dari otoritas perguruan tinggi, wakil kementerian pendidikan Nasional, mahasiswa,     serta para pemerhati pendidikan tinggi dan pegiat gerakan bagi penyandang disabilitas.

Meski  keberadaan  mahasiswa tunanetra di perguruan tinggi telah  terjadi lebih dari empat puluh tahun lalu, namun,  eksistensi mereka  belum sepenuhnya diakui. Hal ini terbukti dengan masih langkanya fasilitas khusus untuk mahasiswa tunanetra di universitas. Sebagai mahasiswa, tunanetra juga membayar  semua kebutuhan untuk menempuh studi di perguruan tinggi; sebagai warga Negara, tunanetra pun membayar pajak. Namun, hingga kini, pemenuhan fasilitas untuk pendidikan mereka, khususnya di jenjang pendidikan tinggi  masih harus diperjuangkan sendiri.

Dari survey yang dilakukan Pertuni di tahun 2005, tercatat hanya ada 250 orang tunanetra  di Indonesia yang berhasil menyelesaikan study di perguruan tinggi. Sementara,data Kementerian Kesehatan mengungkapkan angka kebutaan di Indonesia adalah satu setengah persen dari jumlah penduduk, yang berarti, ada lebih dari tiga juta tunanetra di Indonesia ; dengan demikian, 250 orang bukan angka yang menggembirakan.

Rendahnya jumlah tunanetra yang berhasil meraih pendidikan tinggi disebabkan oleh masalah-masalah yang sangat mendasar, yang bahkan di abad ke 21 ini pun masih sangat dirasakan yaitu:

  1. Akses tunanetra ke pendidikan tingkat dasar dan menengah pun masih rendah; dari data Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2000, jumlah anak tunanetra usia sekolah yang bersekolah tidak lebih dari lima persen, dan hingga kini belum ada upaya sistematis yang dilakukan pemerintah untuk membawa lebih banyak anak tunanetra bersekolah;
  2. Akses tunanetra ke referensi masih sangat terbatas; hal ini berdampak sangat signifikan bagi tunanetra yang berkeinginan menempuh pendidikan tinggi. Berkuliah menjadi sangat “menekan atau stressful”, karena tunanetra harus bergantung pada orang lain yang mau meluangkan waktu membacakan buku untuk mereka,tsehingga tunanetra tidak dapat belajar secara mandiri;
  3. Masih ada penolakan dari perguruan tinggi menerima mahasiswa tunanetra, yang sering kali dianggap “tidak sehat jasmani”;
  4. Tunanetra yang berhasil mengatasi situasi ini adalah mereka yang memiliki dukungan  yang sangat baik dari  keluarga, atau mereka yang memiliki daya juang luar biasa; jika tidak, mereka akan berhenti di tengah jalan.

Prihatin dengan situasi ini, sejak tahun 2006, Mitra Netra, melalui dukungan Pertuni, ICEVI dan TNF, mendapatkan kesempatan untuk membangun pusat layanan bagi mahasiswa tunanetra, dengan menggunakan dua pendekatan yaitu:

  1. Resource center based; layanan khusus untuk mahasiswa   disediakan   di pusat sumber Mitra Netra
  2. University based; layanan untuk mahasiswa tunanetra ditempatkan di perguruan tinggi yang menerima mahasiswa tunanetra; dank kala itu perguruan tinggi yang dipilih  adalah Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Melalui dua pendekatan tersebut, layanan mendasar yang disediakan adalah “layanan alat Bantu teknologi” berupa penyediaan computer yang dilengkapi dengan perangkat lunak pembaca layer (screen reader) – yang biasa disebut computer bicara,  serta scanner yang dilengkapi dengan software Optic Character  Recognation (OCR) yang paling accessible untuk tunanetra. Dengan bantuan alat-alat tersebut, tunanetra terbukti dapat mengakses referensi dengan lebih mandiri, yaitu dengan cara “scanning atau memindai” buku-buku referensi yang harus dibaca, kemudian membaca soft file hasil scanning atau pemindaian tersebut dengan menggunakan computer bicara. Di samping itu, tugas-tugas kuliah pun dapat mereka kerjakan dengan lebih mandiri dan tepat waktu.

Belajar dari keberhasilan rintisan layanan khusus  untuk mahasiswa tunanetra di UNJ, Mitra Netra memimpikan agar layanan tersebut dapat dilanjutkan dan dikembangkan oleh UNJ; tidak hanya itu, layanan semacam itu seharusnya juga disediakan oleh perguruan tinggi di seluruh Indonesia .

Di samping UNJ, Universitas Indonesia (UI), melalui dorongan dari komunitas penyandang disabilitas lainnya, saat ini juga telah merintis pusat layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Ketersediaan alat Bantu teknologi  adalah  salah satu aspek yang harus dipenuhi untuk membangun “kampus yang ramah bagi tunanetra”. Di samping itu,  masih ada aspek-aspek lain yang juga harus  tersedia  dan menjadi bagian yang integral dari system layanan di perguruan tinggi. Ketersediaan fasilitas aksessibilitas fisik yang memungkinkan tunanetra dan penyandang disabilitas lain dapat melakukan mobilitas di kampus secara lebih mandiri, misalnya guiding block/guiding rail untuk tunanetra serta  ram untuk tunadaksa;  system layanan administrasi akademik yang aksessibel; dan yang tak kalah pentingnya adalah lingkungan social kampus yang juga ramah bagi tunanetra; dosen, mahasiswa, serta staf administrasi  yang memahami keberadaan mahasiswa tunanetra di kampus mereka serta memenuhi  kebutuhan khusus yang diperlukan.

Memasuki tahun ajaran baru 2010-2011, Mitra Netra kembali mendapatkan dukungan dari Pertuni, ICEVI dan TNF untuk  mempromosikan  ketersediaan pusat layanan khusus   bagi  mahasiswa tunanetra di perguruan tinggi, sebagai tahapan penting membangun system pendidikan inklusi di universitas. Promosi ini dilakukan dalam bentuk seminar, yang menampilkan  empat  pembicara mewakili tiga stake holder penting. dirjen pendidikan tinggi Prof. DR. Joko Santoso  sebagai pembuat kebijakan yang diharapkan kemudian  memformulasikan dalam kebijakan  segala pengalaman Mitra Netra dan Pertuni dalam   mendukung agar tunanetra memiliki akses yang lebih baik ke pendidikan tinggi, Direktur Eksekutif Mitra Netra Bambang Basuki yang berbagi pengalaman bagaimana Mitra Netra telah melahirkan sarjana-sarjana tunanetra, serta  DR Asep Supena Pembantu Dekan III FIP UNJ yang telah menjadi partner Mitra Netra merintis pusatr layanan untuk tunanetra di universitas tersebut, dan Prof Bambang Shergi Laksmono Dekan FISIP UI mewakili unsur perguruan tinggi.

Di samping penyelenggaraan seminar, promosi pendidikan inklusi di perguruan tinggi juga diselenggarakan dalam bentuk “lomba menulis.  tema yang ditawarkan kepada peserta lomba adalah Strategi Mewujudkan Kampus yang Ramah dan Non-diskriminatif bagi Penyandang disabilitas.

Lomba yang berlangsung kurang lebih dua bulan ini  diikuti oleh  27  peserta, yaitu mahasiswa aktif di wilayah jabodetabek. Mengapa mahasiswa? Ya, karena  mereka adalah calon pemimpin masa depan, termasuk “pemimpin di perguruan tinggi”. Kepada calon pemimpin ini Mitra Netra mengharapkan mereka juga memiliki pemahaman tentang pentingnya membangun perguruan tinggi menjadi “kampus yang ramah bagi para penyandang disabilitas”.

Dua orang juri berkompeten dipilih untuk menyeleksi karya-karya yang masuk, Jodhi Yudono wartawan senior dari Kompas.com dan Prof. Bambang Shergi Laksmono Dekan FISIP UI.  Keluar sebagai pemenang adalah sebagai berikut:

Pemenang Nama Asal Perguruan Tinggi Judul Tulisan
I Kamal Fuadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Kependidikan Islam, Program Studi Manajemen Pendidikan Membangun Kampus Inklusif, Menuju Kampus Ramah dan Nondiskriminatif bagi Penyandang Disabilitas
II Ethenia Novianty Windaningrum Universitas Indonesia (UI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Jurusan Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi, Dunia Kaum Intelek; Akankah Menjadi Milik Penyandang Cacat?
III Pradizza Septiana Putri Universitas Indonesia (UI), Fakultas Psikologi, Jurusan Psikologi Three-in-One: Mengoptimalkan Realisasi Konsep Kampus yang Ramah bagi Difabel

Pendidikan dasar memang penting, sedangkan pendidikan tinggi adalah jalan strategis menuju perubahan.  Selama ini dorongan agar tunanetra memiliki akses ke pendidikan dasar dan menengah memang telah dilakukan. Namun, itu saja belum cukup. Dengan memiliki akses ke pendidikan tinggi yang berkualitas, tunanetra akan memiliki lebih banyak pilihan dalam bekerja, bahkan, tidak menutup kemungkinan untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

“membangun kampus menjadi lingkungan yang ramah pada tunanetra” seharusnya tidak lagi hanya “impian”, di saat perguruan tinggi berlomba-lomba menjadikan dirinya lembaga pendidikan tinggi berstandar internasional, karena salah satu kriteria yang harus dipenuhi jika sebuah universitas berstandar internasional adalah ketersediaan layanan khusus bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Untuk informasi lebih lanjut

Silakan hubungi Yayasan Mitra Netra

Riyanti Ekowati, atau Aria Indrawati

(021) 7651386.