Pengumuman Apresiasi Jurnalis Jakarta 2010 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta

Posted on August 4, 2010

0


Jakarta, 4 Agustus 2010 – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta kembali menggelar penghargaan untuk para jurnalis di Jakarta dengan program Apresiasi Jurnalis Jakarta (AJJ) 2010. Penghargaan ini adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas jurnalisme Indonesia. Ajang penghargaan ini diutamakan untuk para jurnalis muda yang memiliki dedikasi dan konsistensi tinggi terhadap profesinya yang dibuktikan melalui karya jurnalistik berkualitas dan memberi pengaruh luas kepada masyarakat. Penghargaan ini dirancang untuk merangsang tumbuhnya karya jurnalistik yang berbobot dari para jurnalis di Jakarta.

Penghargaan tahunan ini dimulai sejak 2002 dan diumumkan saat peringatan Ulang Tahun AJI pada setiap Agustus. Sampai kini sudah delapan kali penghargaan ini diberikan kepada para jurnalis Jakarta.

Tahun ini Apresiasi Jurnalis Jakarta menambah jenis pengelompokkan karya jenis investigasi dan feature untuk media cetak dan online, televisi, dan radio serta jenis photo story dan photo single untuk foto jurnalistik. Persaingan memperebutkan gelar jurnalis Jakarta terbaik tahun ini berlangsung cukup ketat.

Menurut Ketua AJI Jakarta Wahyu Dyatmika, penghargaan ini dirancang untuk merangsang tumbuhnya karya jurnalistik yang berbobot dari para jurnalis di Jakarta. ”Kita mendorong para jurnalis di Jakarta untuk melahirkan karya jurnalistik yang berdampak besar terhadap publik,” katanya.

Dari 68 karya yang masuk ke panitia muncul karya-karya yang menyajikan ide menarik dan memberikan perspektif baru melihat persoalan-persoalan publik yang kompleks. Dari jumlah karya itu, terdiri atas 19 karya media cetak dan online, 13 karya televisi,  20 karya radio, dan 16 karya foto jurnalistik.

Dewan juri mempertimbangkan enam hal yang dinilai: manfaat untuk publik, orisinalitas, penulisan atau penyajian, etika jurnalistik, bahasa (cetak dan online, radio, dan televisi), dan estetika (foto). Juri yang menilai karya-karya dari para peserta adalah Amarzan Loebis, Abdullah Alamudi, Andi Riccardi Ajatmiko, Han Harlan, dan Julian Sihombing.

Juri memberikan beberapa catatan penting. Amarzan Loebis mengatakan banyak jurnalis yang belum bisa membedakan dengan jelas antara karya investigasi dan liputang panjang. ”Buktinya, beberapa karya liputan panjang didaftarkan sebagai karya jenis investigasi. Investigasi itu berangkat dari kecurigaan dan harus membuktikan apakah kecurigaanya terbukti atau tidak,” katanya, di Jakarta.

Abdullah Alamudi memberikan catatan beberapa karya foto baru bisa dibaca pesannya setelah membaca caption-nya. ”Padahal, karya foto jurnalistik mestinya bisa berbicara sendiri dengan gambar,” ujarnya.

Sebagian besar karya investigasi televisi yang dkirimkan ke panitia menunjukkan kelemahan mendasar: gambar goyang-goyang, gambar tidak fokus, narasi yang terlalu dominan, dan gambar yang kurang berbicara. ”Padahal, dengan waktu yang lebih banyak jurnalis bisa menghasilkan gambar yang lebih bagus dan narasi yang minim,” kata Andi Riccardi Ajatmiko. Tetapi tetap ada harapan bahwa jurnalisme Indonesia di masa depan berkembang menjadi lebih baik dan berkualitas.

Setelah melalui proses penjurian yang panjang, para juri memutuskan para pemenang Apresiasi Jurnalis Jakarta tahun ini adalah:

1. Kategori Foto untuk photo story  adalah Feri Latief, The Last Shelter, The Jakarta Globe, 24 Juli 2009. Untuk foto single tidak ada pemenang.
2. Kategori Televisi untuk investigasi adalah Ade Nurul Fuad, Jajanan Digigit Penyakit Menjangkit, TPI, 18 April 2010, dan untuk jenis feature-nya adalah Mawaria Wira Miharti dan Dedi Asyatari, Tinggal Berdua Demi Menjaga Pulau, Trans TV, 7 Juni 2010.
3. Kategori Radio untuk investigasi adalah Taufik Wijaya, Vila Bodong Para Penggede, KBR68H, 2 dan 13 April 2010, dan untuk feature-nya adalah Liza Desylanhi, Bank Sampah, KBR68H, 22 Juni 2010.
4. Kategori Media Cetak dan Online untuk jenis investigasi adalah Sam Cahyadi, Setelah Bauksit Hilang Alam pun Kerontang, Mingguan Kontan, 8-14 Maret 2010 dan untuk feature-nya adalah  Tito S Sianipar, Balada Hutan yang Dizalimi, Koran Tempo, 6 Desember 2009.

Panitia berharap di masa depan akan lahir karya-karya jurnalistik yang berkualitas dan berpihak kepada publik.

Demikian siaran pers ini kami buat untuk segera disiarkan.

Informasi lebih lanjut: 08174117324 (Ahmad Nurhasim)