STOP SAWIT UNTUK HENTIKAN LAJU KEPUNAHAN SATWA LIAR

Posted on October 27, 2010

0


Jakarta, 14 Oktober 2010 – Indonesia layak berbangga diri dengan sebutan Mega Biodiversity Country atau negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, nomor 3 di dunia setelah Brazil dan D.R. Congo. Ironisnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki daftar terpanjang di dunia mengenai satwa dan tumbuhan liar yang terancam punah. Menurut Red List Data yang diterbitkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), total hidupan liar Indonesia yang terancam mencapai 1.116 jenis, terdiri dari 183 jenis mamalia, 98 jenis burung, 27 jenis reptil, 32 jenis amfibi, 137 jenis ikan, 3 jenis molusca, 243 jenis invertabrata dan 393 jenis tumbuhan.

“Penyebab utamanya adalah pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa  sawit. Bagi satwa liar, hilangnya hutan berarti hilangnya habitat dan sumber makanan. Beberapa jenis satwa liar, terutama orangutan, mempertahankan hidup dengan memakan tunas kelapa sawit. Karena itu, orangutan dianggap sebagai hama yang merugikan. Karena itu, dengan sengaja perusahaan kelapa sawit membasminya,” kata Ali Daut, juru kampanye Habitat dari COP.

Pembasmian satwa liar dilakukan secara sistematis sebagai bagian dari kebijakan perusahaan. Perusahaan mempekerjakan masyarakat setempat untuk memburu dan membunuh satwa liar, membiarkan perburuan atau meracuninya dengan jalan menaburi pisang dengan pestisida Furadan dan menyebarkannya. Praktek illegal ini terjadi hampir di seluruh perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.

Publikasi dan klaim – klaim mengenai kelapa sawit yang berkelanjutan, sebagian besar adalah bohong. Kawasan – kawasan berhutan yang diklaim sebagai kawasan konservasi oleh perusahaan – perusahaan kelapa sawit, pada umumnya merupakan kawasan yang tidak berhasil direbut dari masyarakat setempat. Kalaupun benar mereka menyisihkan hutan untuk kawasan konservasi, cepat atau lambat akan menjadi hutan yang mati, hanya sekumpulan pohon yang tidak dihuni oleh satwa liar. Satwa liar, terutama primata seperti orangutan tidak dapat hidup dalam hutan – hutan yang sangat terfragmentasi dan berdaya dukung rendah. Beberapa perusahaan terlihat menjalankan kriteria – kriteria yang telah ditetapkan oleh Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), namun dalam waktu yang sama mereka tetap saja membabat hutan yang memiliki Nilai Konservasi Tinggi.

“Hampir sebagian besar orangutan yang berada di Pusat – Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi yang kini jumlahnya diperkirakan mencapai 1200, memiliki latar belakang sebagai korban perkebunan kelapa sawit. Jumlah itu tidak termasuk yang gagal diselamatkan karena lukanya terlalu parah atau diketemukan sudah dalam keadaan mati. Situasi ini terus terjadi hingga sekarang,” lanjut Ali Daut.

Centre for Orangutan Protection (COP) dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) mendesak pemerintah Indonesia untuk fokus ke akar permasalahan, yakni menghentikan pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit. Ijin yang sudah telanjur diberikan, manakala terbukti mengancam satwa liar harus segera dicabut kembali dan melakukan penegakan hukum pada dugaan – dugaan kejahatan berencana pada lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan, konsultan lingkungan dan pegawai pemerintah yang berkaitan dalam proses perijinan. Jika hal ini tidak segera dilakukan, kejahatan seperti ini akan terus berlanjut dan Indonesia akan benar – benar kehilangan kekayaan atas keanekaragaman hayatinya.

Di Kalimantan Tengah, setidaknya 240.182 hektar hutan sudah dibabat tanpa ijin pelepasan kawasan oleh Menteri Kehutanan. Ini tidak termasuk kawasan – kawasan hutan yang diatas kertas sudah dimanipulasi bukan sebagai hutan. Hutan di Cempaga Hulu adalah contohnya. Di atas kertas, hutan yang merupakan habitat penting bagi orangutan, owa dan beruang itu digambarkan sebagai lahan kritis. Kantong – kantong habitat orangutan yang terakhir, terutama di Kalimantan Timur  harus segera diselamatkan dan dipastikan keamanannya, terutama di Muara Wahau dimana Pemerintah berencana melepasliarkan ratusan orangutan yang telah direhabilitasi. Jika tidak, ini seperti melepaskan mereka ke sebuah taman buru. Untuk informasi lebih lanjut, silakan wawancara dengan:

Ali Daut, Habitat Campaigner COP.

Emai : ali@cop.or,id

Tagged: , ,